403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID zej6m32dlRY0a0A25NNoLc-OxNRNVcvRHLcE5bqHIVmAIA9FdGS0bg==
MegatPanji Alam pun datang mengadap Raja Inderapura. Apabila sampai di Istana, Megat Panji Alam pun memberitahu bahawa baginda ingin menampar muka Hang Tuah. Si Jaya 16. Megat Panji Alam 17. Sang Perdana 18. Sang Sura 19. Bendara Paduka Raja 20. Dang Dara Cita hati 21. Dang Puasa Tetapi Hang Tuah tidak gentar kerana mengikut firasatnya
Selepas serangan Kerajaan Chola di tahun 1025 M, telah membuat Kedatuan Sriwijaya terpecah menjadi beberapa negara. Sebagian keluarga kerajaan yang tersisa, membangun Kerajaan Sriwijaya di Pedalaman. Dalam Legenda Palembang, Kerajaan Sriwijaya di Pedalaman dibangun oleh keturunan Raja Alim, yang merupakan putera dari Penguasa Sriwijaya Bukit Siguntang Palembang, yang bernama Maharaja Sulan sumber Legenda Bukit Siguntang. Di masa Maharaja Sulan Raja Segentar Alam, Sriwijaya Bukit Siguntang disegani oleh negeri-negeri di Nusantara, bahkan Sang Raja dianggap mewarisi kharisma dari leluhur Kedatuan Sriwijaya, Dapunta Hyang Jayanasa. Raja Segentar Alam juga dikenal dengan nama āIskandar Zulqarnain Syah Alamā, nama tersebut ia peroleh setelah dirinya menjadi mualaf masuk Islam, atas bimbingan seorang ulama terkemuka ketika itu, Puyang Sungai Ogan āWali Putihā. Salah seorang keturunan Raja Segentar Alam pergi ke tanah Jawa, kemudian menurunkan raja-raja di sana. Ada yang berpendapat sosok yang dimaksud adalah Puteri Subraba istri dari Raja Sunda Prabu Guru Dharmasiksa, sementara pendapat yang lain sosok tersebut adalah Ken Angrok Arok, pendiri Kerajaan Singhasari. Sepeninggalan Raja Segentar Alam, kekuasaan Sriwijaya Bukit Siguntang dipegang oleh anak keturunan dari puteranya yang bernama Raja Mufti. Di kemudian hari, pusat pemerintahan dipindahkan, ke daerah Lebar Daun, sehingga penguasa Sriwijaya di masa tersebut, lebih dikenal dengan nama Demang Lebar Daun. Referensi 1. Misteri Panglima Arya Damar 2. Jejak raja-raja Kerajaan Sriwijaya 3. Menyelusuri Dinasti Sriwijaya al Akbar 4. DINASTI AL-KAMIL [keSultanan Perlak] Bahagian 4 5. Makam Raja Segentar Alam di Bukit Siguntang Palembang Catatan Penambahan 1. Diperkirakan anak keturunan Raja Alim, putera dari Maharaja Sulan Raja Segentar Alam, yang mempelopori berdirinya kerajaan-kerajaan di pedalaman, seperti Kerintang Indragiri, Pagaruyung, Dharmasraya dan Gasib Siak. 2. Salah satu versi keturunan Raja Segentar Alam Raja Sulan Maharaja Sambugita, adalah sebagai berikut sumber Misteri] Panglima Arya Damar bukanlah Adipati Arya Dillah ?. 3. Silsilah Kerajaan Nusantara, dengan mengambil sumber dari berbagai daerah, yang sekaligus untuk merevisi beberapa data silsilah dalam artikel⦠WaLlahu aālamu bishshawab Artikel Menarik 1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara 2. [Misteri] Ketika Syaikh Siti Jenar menjadi 2 dua ? 3. Rivalitas, VOC ā Mataram, dalam kemelut Negeri Palembang tahun 1636 M? 4. [Misteri] Tjokroaminoto Guru Presiden Soekarno, yang pernah dikunjungi Rasulullah?Dankalau pun bisa diambil atau dicuri dan di miliki orang, maka bisa di pastikan orang itu memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Bangsa Halimun/orang kate adalah merupakan " Raja Diraja " dari binatang babi siluman, pada prinsipnya apapun babi jantan yang sehat dan kuat akan di pilih oleh makhluk tersebut untuk di berikan sebuah pusaka, pegangan atau hadiah berupa rantai. yang manusia
Yunaidi/National Geographic Indonesia Patung Lembuswana di depan Museum Mulawarman, Tenggarong - Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. āSang Maharaja Mulawarman yang mulia dan terkemuka,ā demikian menurut salah satu prasasti yang ditemukan di hulu Mahakam, ātelah memberi sedekah ekor lembu kepada para Brahmana...ā Tujuh buah prasasti berhuruf pallawa dalam bentuk tugu batu menyingkap tabir peradaban pada awal milenium pertama di Nusantara, sekitar abad ke-5. Tugu batu itu didirikan oleh para Brahmana atas sebuah perhelatan kenduri akbar yang digelar oleh Mulawarman, seorang anak dari Aswawarman dan cucu dari Kudungga. Temuan prasasti pada 1879 dan 1940 tersebut telah mengakhiri masa prasejarah di Nusantara. Kutaiāmeskipun tidak disebutkan dalam prasasti ituātelah ditahbiskan sebagai kerjaan Hindu tertua. Namun, tampaknya peradaban berikutnya baru muncul sekitar seribu tahun setelah masa Mulawarman. Dalam hikayat masyarakat Kutai, tersebut nama Aji Batara Agung Dewa Sakti. Dialah raja Hindu yang bertakhta pada 25 tahun pertama abad ke-14. Kelak, pernikahannya dengan Putri Karang Melenu akan menurunkan dinasti raja-raja Kutai Kartanegara hingga sekarang. Dua sosok leluhur Kasultanan Kutai ing Martadipura tersebut kerap dikenang dalam Pesta Adat Erau, salah satu festival budaya tertua di Indonesia. Makna setiap ritual adat selalu dihubungkan dengan kelahiran keduanya. Kerajaan Kutai abad ke-14 sepertinya telah menjalin hubungan kerja sama dengan kerajaan sohor di Jawa pada masanya, Majapahit. Kakawin Nagarakretagama gubahan Prapanca pada 1365, menyebutkan toponimi Tanjung Kutei dalam pupuh 14. Kerajaan Kutai Kartanegara pertama berlokasi di Kutai Lama 1300-1732, hilir Mahakam. Lalu pindah ke Pemarangan 1732-1782, dan terakhir di Tepian Pandan sejak 1782. Nama Tepian Pandan diganti menjadi Tangga Arungābermakna āRumah Sang Rajaāāyang dilafalkan warga setempat sebagai Tenggarong. Kepindahan Ibu Kota Kerajaan Kutai dari Pemarangan ke Tenggarong dilakukan pada masa Aji Imbut yang bergelar Sultan Muhammad Muslihuddin. Takhta di Tenggarong dimulai sejak 28 September 1782, kini diperingati sebagai hari jadi kota itu. Tropenmuseum Kedaton Kesultanan Kutai di Tenggarong, tepian Mahakam, pada masa Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Konon, nama Martadipura mulai ditambahkan dalam nama Kutai Kartanegara sejak Aji Pangeran Adipati Sinum Panji Mendapa dari Kerajaan Kutai Kartanegara mengalahkan Maharaja Derma Setiya dari Kerajaan Kutai Martadipura pada 1605. Pada abad ke-18 pengaruh Islam telah memasuki istana Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Gelar raja diganti dengan Sultan. Sultan Kutai pertama kali adalah Sultan Aji Muhammad Idris yang bertakhta 1735ā1778 di Pemarangan. The Head-Hunters of Borneo karya Carl Bock yang diterbitkan S. Low, Marston, Searle, & Rivington di London pada 1882, menampilkan litografi yang melukiskan bangunan Kasultanan pada akhir abad ke-19. Dia juga mengungkapkan Sultan Aji Muhammad Sulaiman 1845-1899 memiliki enam sampai delapan orang Cina yang berprofesi sebagai pandai emas dan perak. Baca juga Kesaksian Perempuan Eropa tentang Pemburu Kepala Manusia di Kalimantan Kutai Kartanegara kaya akan hasil tambang minyak bumi dan gas alam, juga batubara. Pada 1882 berlangsung perjanjian antara Pemerintah Hindia Belanda dan Sultan Kutai soal konsesi tanah selama 75 tahun untuk pembukaan tambang batubara. Tambang batubara pertama diresmikan pada 1888. Kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi minyak bumi di Sanga-Sanga. Kini pertambangan minyak bumi terbesar di kabupaten tersebut berada di Samboja, dekat perbatasan Balikpapan. Produksi minyak bumi Kutai pernah menjadi tiga besar pada masa Hindia Belanda. Hooze, seorang ahli geologi Hindia Belanda, menjuluki kawasan itu sebagai āSungai Minyak Tanah.ā Selama 41 tahun Kutai Kertanegara ing Martadipura berjalan tanpa kepemimpinan Sultan. Sejak akhir Januari 1960 Sultan Aji Muhammad Parikesit menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintah daerah. Hal ini terkait dengan pencabutan status Kutai kartanegara sebagai āDaerah Istimewaā menjadi daerah swatantra setingkat kabupaten pada 1959. Yunaidi/National Geographic Indonesia Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II duduk di singgasana Balai 41 saat ritual Beluluh di teras depan Kedaton Kasultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Ritual meluluhkan segala pengaruh jahat di jiwa dan raga Sultan ini digelar setiap sore selama pekan Pesta Adat Erau 2013. Sejak penyerahan wewenang kepemimpinan itu Sultan dan keluarganya tak lagi memiliki kedudukan khusus. Kasultanan bangkit lagi ketika Pengeran Praboe Anoem Soerja Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai ke-20 dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II pada 22 September 2001. Nueng Ibrahim, seorang budayawan asal Kutai yang pernah membangkitkan seni keroncong tingkilan, berkata kepada National Geographic Indonesia, "Kekayaan Kutai tidak bisa kita lihat." Lalu, dia melanjutkan dengan ungkapan, "Kekayaan Kutai adalah kemurahan hati warganya." Riwayat kejayaan masa silam Kutai masih berlanjut. Di kawasan tapak kerajaan Hindu tertua seantero Nusantara itu, kelak pusat pemerintahan dan Ibu Kota Republik Indonesia berada. Sejarah berulang? PROMOTED CONTENT Video Pilihan
Yudistiraterkapar, raja jin di hutan wanamarta ini berusaha bangkit, ia kemudian berlutut di hadapan Pandhawa. Bima tak mau kalah dengan kesaktian adiknya, putra batara bayu ini berdiri di tengah puluhan raksasa. Ia segera membuat pusaran dengan gadanya. "mereka itu alam semesta, nger" semar menjawab singkat. Pandawa dan KresnaSI GENTAR ALAM ISKANDAR ZULKARNAEN ALAMSYAH Iskandar zulkarnaen Alamsyah adalah seorang raja dari Mataram Kuno yang bergelar Si Gentar Alam pergi berlayar mencari daratan lain di Limbang Tanah Melayu dengan maksud memperluas daerah pemerintahan. Keberangkatannya menggunakan kapal yang dibenderai Lancang Kuning dikawal oleh dua pengawal bernama Panglima Bagus Kuning dan Bagus Karang. Mereka menaiki tiga kapal. Suatu saat, karena belum paham mengenai wilayah pelayaran itu, mereka terpisah. Dua kapal pecah. Salah satu pecahannya ditemukan di daerah Karang Anyar, yaitu wilayah Palembang di pesisir Sungai Musi. Sedang satu kapal terdampar di Siguntang. Bukit Siguntang pada saat itu hanya berupa segumpal tanah yang mengapung di permukaan laut luas yang dalam Bahasa Melayu disebut dengan istilah āterguntang-guntangāā di atas air. Istilah itu berproses secara etimologis menjadi Tanah Siguntang. Si Gentar Alam merupakan salah satu raja yang membawa kemasyuran Sriwijaya pada masa pemerintahannya. Pada abad VI-IX pengaruhnya mencapai Bali, Padang, Jambi, Lampung, Malaka, Singapura, Tiongkok, dan Brunai. Karena pengaruhnya yang luas, mitos-mitos pun beredar seputar dirinya. Kesaktiannya digambarkan dengan sebuah kemampuan menggetarkan bumi manakala dia marah dan menghentakkan kakinya ke tanah. Karena kesaktian itulah dia diberi gelar Raja Si Gentar Alam. Pada abad X-XIII, Kerajaan Sriwijaya yang pusatnya berada di tepi Sungai Musi mengalami keruntuhan. Raja Si Gentar Alam pun mulai menganut agama Islam yang dibawa masuk oleh pedagang-pedagang dari Arab, seperti Panglima Batu Api dari Jeddah dan Tuan Junjungan. Memeluk agama baru, Raja Si Gentar Alam dianugerahi nama Tuan Iskandar Syah, yang kemudian tersohor hingga ke Malaka. Raja Si Gentar Alam didampingi dua istri, yaitu Putri Rambut Selako yang nama Aslinya Damar Kencana Wungu putri Prabu Brawijaya dari Mataram, dan Putri Kembang Dadar dari Palembang yang mempunyai nama lain Putri Bunga Melur.4r29g.